Belajar banyak untuk optimalisasi potensi kelautan dan perikanan Indonesia

Potensi yang dimiliki perairan laut Indonesia sangat luar biasa. Minimnya pengembangan potensi kekayaan laut tersebut membuat Indonesia masih kalah bersaing dibandingkan beberapa negara di Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand,  bahkan Vietnam (Dahuri 2002). Ardi et al. (2002) memberikan contoh, kontribusi komoditas rumput laut terhadap sektor perikanan dan kelautan di Swedia, Thailand, serta Filipina sangat besar. Filipina misalnya, negara ini mampu memanfaatkan potensi rumput lautnya jauh lebih besar dari Indonesia, padahal dengan luas laut di Nusantara dua per tiga dari daratannya seharusnya bisa dimanfaatkan lebih besar dari negeri tetangga tersebut.

Wilayah perairan di dunia cukup luas dibandingkan dengan wilayah daratannya, maka seharusnya sektor kelautan dan perikanan dapat menjadi salah satu penyokong perekonomian suatu negara yang berbasiskan sumber daya perairan. Berbagai negara maju telah memanfaatkan potensi laut dengan baik, sehingga sektor perikanan dan kelautan di negara yang bersangkutan memiliki andil yang cukup besar bagi aktivitas ekonomi negara tersebut. Hal itu dapat terlihat dari kontribusi sektor kelautan beberapa negara terhadap produk domestik bruto negara tersebut. Tabel 1 menunjukkan kontribusi sektor kelautan Indonesia dibandingkan dengan negara Amerika Serikat, Korea Selatan, Republik Rakyat China, dan Jepang.

Tabel 1. Perbandingan Kontribusi Sektor Kelautan Beberapa Negara

No.

Nama Negara

Panjang Pantai (km)

Luas Perairan (km2)

Kontribusi Sektor Kelautan Terhadap GDP

(%) Nilai
1. Amerika Serikat 19.000 32 $280 milyar (1995)
2. Korea Selatan 2.713 37 $147 milyar (Huh and Lee 1992)
3. RRC 32.000 3 juta 48.4 $174 milyar (1999)
4. Indonesia 81.000 5.8 juta 20.06 $18.9 milyar (1998)
5. Jepang 34.386 54 $214 milyar (Itosu 1992)

Sumber : Kusumastanto 2002

Suksesnya pembangunan kelautan dan perikanan juga terjadi di negara lain, seperti Islandia dan Norwegia. Sektor kelautan dan perikanan negara tersebut mampu memberikan kontribusi ekonomi nasional yang besar dan mendapatkan dukungan penuh secara politik, ekonomi, sosial dan dukungan lintas sektoral. Kontribusi sektor perikanan terhadap GDP di Islandia sebesar 65%, Norwegia 25% (DKP 2003).

Salah satu negara maju yang memanfaatkan porensi perikanan dan kelautan dengan baik adalah Jepang. Luas wilayah perairan serta panjang pantai yang nilainya lebih kecil daripada potensi yang dimiliki Indonesia justru mampu memberikan kontribusi terhadap sektor ekonomi secara signifikan. Dilihat dari sisi kebiasaan hidup, masyarakat Jepang memakan lebih banyak ikan per kapita dibandingkan dengan beberapa negara berkembang, nilai konsumsi ikan masyarakat Jepang biasa mencapai 128 pon setiap tahun, sedangkan rata-rata konsumsi ikan di dunia hanya sekitar 37.7 pon per tahun. Sekitar 23% kebutuhan protein bagi diet sehari-hari masyarkat Jepang dipenuhi oleh konsumsi ikan (Biggs et al. 2011). Data tersebut menunjukkan bahwa sektor perikanan memiliki peran yang sangat penting di Jepang. Kebutuhan yang tinggi akan komoditas perikanan mendorong negara Jepang melakukan akselerasi di bidang teknologi yang bertujuan untuk mengembangkan sektor perikanan dan kelautan.

Apabila dilihat dari perikanan lautnya, nilai produksi ikan dari kegiatan penangkapan ikan serta budi daya di Jepang adalah sebesar 250.000 ton pada tahun 2000. Nilai ini sebanding dengan JPY 1.76 juta atau sekitar USD 11 milyar. Nilai tersebut menjadikan Jepang sebagai negara produsen ikan terbesar kedua setelah China. Masyarakat pesisir Jepang yang memiliki profesi sebagai nelayan berasosiasi membentuk suatu komunitas masyarakat pesisir dan saling bekerja sama dalam menyukseskan program manajemen sumber daya pesisir di Jepang, ini merupakan suatu upaya dan bukti yang menunjukkan bahwa masyarakat pesisir Jepang memiliki keseriusan tinggi dalam hal manajemen sumber daya pesisir yang berkelanjutan sehingga sumber daya pesisir pun menjadi salah satu pilar yang berkontribusi dalam perekonomian negara Jepang. Dalam hal kegiatan penangkapan ikan, Jepang menyusun rapi kebijakan yang berkaitan dengan kegiatan penangkapan ikan, dan membagi tiga manajemen yang terintegerasi menjadi suatu sistem perikanan tangkap yang mantap. Adapun tiga manajemen perikanan tangkap tersebut antara lain : coastal fisheries, distant water fisheries, dan offshore water fisheries. Hak untuk mengeksploitasi ikan diberikan oleh FCA (Fishermen Cooperative Association) (Matsuda dan Shigemi 1995).

Sejak tahun 1983, Negara Jepang dan Amerika Serikat berlomba-lomba berinvestasi dalam penggalian bahan alam (Marine Natural Product) tertentu yang terkandung dalam berbagai biota perairan. Jepang membelanjakan AS$1 milyar per tahun (80% berasal dari industri).  Para pakar bahan alam Jepang yang mengekstrak 100 species sponge penghuni terumbu karang menemukan 20% dari sponge tersebut mengandung senyawa bioaktif baru dan unik.  Amerika Serikat yang berinvestasi lebih kecil dalam MNP ini juga telah menuai sukses dengan dipatenkannya sebanyak 170 senyawa bioaktif baru (Bank Dunia dan Sida 1995).

Perhatian internasional terhadap pengelolaan potensi sumberdaya perikanan dan kelautan sudah dimulai sejak dekade tahun 1980-an di mana negara-negara yang sebelumnya hanya memanfaatkan teknologi penangkapan kini telah mengubah kebijakan pengelolaan sumberdaya perikanan melalui kegiatan budidaya perairan berdasarkan pada pendekatan bioteknologi melalui upaya-upaya seperti pemetaan gen dengan pendekatannya melalui kajian bioteknologi molekuler. Negara Jepang pun telah banyak melakukan riset bioteknologi kelautan dan perikanan sebagai upaya untuk memanfaat potensi perairan secara optimal. Hingga tahun 1995, Jepang tercatat telah menghabiskan dana sekitar USD 200 juta untuk melakukan riset di bidang bioteknologi perikanan dan kelautan (Attaway dan Grimes 1995 dalam Sukoso 2002).

Salah satu komoditas perairan yang dijadikan objek berbagai riset bioteknologi kelautan dan perikanan adalah mkroalga. Kemampuan mikroalgae dalam menyerap karbon organik menjadi landasan bagi ahli Jepang untuk mempelajari kemanfaatan mikroalga bagi kegiatan lainnya. Japan Times menginformasikan hasil temuan riset di sekitar Juni tahun 1997, hasil riset tersebut menyatakan bahwa kelompok peneliti Jepang dari pusat penelitian perusahaan Idemitsu Kosan yang bekerjasama dengan perusahaan penyulingan minyak Okinawa telah berhasil  mengekstrak minyak dari jenis mikroalga air tawar yang dikenal sebagai Botryococcus bravnii. Rekayasa genetik telah mampu meningkatkan kemampuan produktivitas mikroalga ini dari awal penanaman sejumlah 2 gram dihasilkan 10 gram dalam tempo waktu 10 hari di mana 50% dari berat tersebut (5 gram) merupakan berat minyak yang dapat dihasilkan. Riset juga melaporkan bahwa kualitas minyak yang dihasilkan memiliki kapasitas panas yang ekuivalen dengan grade C dari heavy fuel oil yang biasa digunakan oleh kapal motor (boat). Hasil temuan ini memberikan optimisme bahwa jika mikroalgae ini dibudi-dayakan pada area seluas 60% Pulau Hokaido, maka akan mampu menyerap seluruh karbondioksida (CO2) yang ada sebagai bahan polutan di seluruh Jepang, dan penyerapan karbon oleh mikroalga ini digunakan sebagai sumber karbon dalam proses fotosintesisnya dan sekaligus memberikan harapan bagi kemungkinan produksi minyak yang berarti akan mereduksi ketergantungan Jepang terhadap minyak sebagai sumber energi strategis bagi sebagian besar kegiatan industri dan kehidupan di Jepang (Sukoso 2002). Fakta-fakta tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah Jepang dalam menggarap potensi sumber daya perairan menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakatnya dengan tetap melibatkan peran masyarakat sebagai objek sekaligus subjek pembangunan.

 

Daftar Pustaka

Ardi et al. 2002. Strategi Pengembangan Potensi Perikanan dan Kelautan Melalui Konsep Industri Terpadu. Bogor : IPB.

Biggs S, Matuyama K, Balfour F. 2001. A grim future for Japan’s fisheries. www.businessweek.com [20 Agustus 2011].

Dahuri D. 2002. Membangun Kembali Perekonomian Indonesia Melalui Sektor Perikanan dan Kelautan. Jakarta : LISPI.

[Departemen Kelautan dan Perikanan]. 2003. Gerakan Nasional Pembangunan Kelautan dan Perikanan. Jakarta : Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.

Kusmastanto. 2002. Reposisi “Ocean Policy” dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia di Era Otonomi Daerah. Orasi Ilmiah Guru Besar Kebijakan Ekonomi. Bogor : PKSPL-IPB

Matsuda and Shigemi. 1995. Co-Management in Marine Fisheries: The Japanese Experience by Lim Coastal Management, Volume 23.

Sukoso. 2002. Peran Bioteknologi Molekuler dalam Pembangunan Bidang Perikanan dan Kelautan Indonesia. Orasi Ilmiah dalam rangka Dies Natalis XXXIX Universitas Brawijaya. Malang : BAPSI Universitas Brawijaya

Leave a Comment

Haruskah kita skeptis lalu apatis?

Haruskah kita skeptis lalu apatis?

 

Mengerikan memang, namun tak bisa disangkal hal tersebut ‘akan’ bahkan ‘telah’ menjadi suatu keniscayaan yang mulai menyerang hati manusia. Saat demokrasi semakin terbuka bahkan adakalanya menembus ‘batas’, justru sikap skeptis yang meradang ke arah apatis sudah mulai mengakar dan terinternalisasi, kemudian akhirnya mungkin pada suatu hari (semoga tidak terjadi) akan menjadi hal yang biasa dan diterima dalam norma kehidupan sehari-hari.

 

Contoh kasus. Pernah mendengar beberapa selentingan seperti “politik itu kotor”, “pejabat itu licik”, “orang eksekutif itu cenderung mengeksekutifkan diri” bahkan hingga “orang Indonesia itu syalala syalala (yang ini terlalu kompleks)” dan kata-kata pesimis lainnya. Ya, rasa pesimis itulah induk dari segala buruk sangka dan ketakutan yang melahirkan sikap skeptis dan jika dibiarkan akan tumbuh menjadi sikap apatis yang merugikan. Nassim Thaleb dalam Black Swan menyatakan bahwa sikap skeptis ini justru sering terjadi di kalangan intelektual, berkembang dalam hubungan sesama manusia, dan rupanya hal ini merupakan imbas dari keadaan dunia yang semakin penuh dengan kebohongan, kemunafikan, dan saat kepercayaan serta integritas menjadi seperti sebuah mata uang. Memang pada awalnya skeptis diartikan sebagai suatu sikap ragu-ragu, tidak mudah percaya, dan berhati-hati atas tindakan orang lain. Para skeptikus pun sudah ada sejak zaman Yunani kuno lalu seiring dengan perkembangan filsafat, Rene Descartes merintis sikap ini dalam metode ilmiah.

 

Namun sebenarnya hal mana yang akan menjadi masalah? yaitu ketika skeptis yang berkembang pada pola pikir masyarakat adalah skeptis akut hingga kronis (banyaknya sih bersifat kronis, karena biasanya sikap ini timbul atas kekecewaan-kekecewaan yang muncul sebelumnya). Sungguh sangat ironis jika perkembangan zaman yang semakin menuntut peningkatan kemampuan komunikasi serta sosialisasi dan peningkatan etos kerja dalam sebuah tim, namun justru nilai-nilai kepercayaan tehadap orang lain, sikap menerima akan gagasan serta pekerjaan orang lain semakin terdegradasi dengan adanya sikap skeptis kronis yang semakin mengakar, meradang, bahkan membengkak menutupi hampir seluruh cara berpikir sehat.

 

Kita pasti tak ingin kan penyakit skeptis yang kronis ini bertransformasi menjadi stress oksidatif yang akhirnya berimplikasi pada maag kronis, hipertensi, ateroklerosis, diabetes non bawaan, dan penyakit-penyakit lainnya. Mari bersikap sesuai dengan kadarnya, berpikir kritis dan hati-hati memang perlu, karena tak selamanya kita selalu berada pada zona aman yang membiarkan kita terlalu nyenyak dalam ‘tidur’ yang panjang, tapi sepertinya memang semua yang menjadi perihal di dunia ini pasti sudah ada dosisnya kok, karena alam semesta ini nampaknya selalu ingin berusaha mencapai titik homeostasis (seimbang), dan mencapai titik homeostasis ini memang membutuhkan proses-proses yang dinamis.

 

Jangan bersedih, jangan gundah, jangan lagi skeptis lalu apatis karena banyak hati yang sedang mengharapkan tindakan kita yang lebih konstruktif di luar sana. Jangan sungkan untuk kembali pada fitrah kita masing-masing, jangan sungkan untuk kembali pada insting kita terhadap segala macam kebaikan.

 

Bergegaslah kawan, untuk meninggalkan diri lalu memasuki diri (Djibran 2011)

Mempersiapkan hati yang penuh dengan prasangka sebening mungkin terhadap siapapun,

Mempersiapkan jiwa yang akan merasa lebih lapang daripada biasanya untuk menghadapi resiko yang pasti timbul dari proses berinteraksi, tak banyak mengungkit kesalahan orang lain lagi, karena sesungguhnya 90% akhlak baik itu terletak pada sikap mengabaikan kesalahan orang lain.

 

Bergegaslah kawan, jangan batasi diri lagi hingga akhirnya kita dapat mereduksi lagi segala hal yang menyesakkan dada.

Bergegaslah kawan, persiapkan raga ini untuk dapat berbuat lebih banyak (tentunya perbuatan-perbuatan yang tidak destruktif terhadap keseimbangan alam semesta) sebagai bentuk rasa syukur kita atas nikmat yang apabila dihitung pakai kalkulator niscaya syntax error, dan dengan segala totalitas diiringi hati yang selalu berusaha memperluas kapasitasnya (jika F sama dengan gaya yang dalam hal ini berupa masalah-masalah yang memberatkan hati kita, dan A adalah luas permukaan hati kita, maka nilai P (tekanan) yang dirasakan dapat diperkecil dengan memperbesar nilai A, P=F/A))..

 

Give ur best!

Saling mengingatkan ya, selalu :’)

 

Bogor, 11 Desember 2011

Leave a Comment

Satelit NASA Jatuh di Lepas Pantai California

Upper Atmosphere Research Satellite, satelit yang sejak tahun 1991 diluncurkan untuk meneliti status fisika dan kimia lapisan atmosfer dilaporkan telah jatuh di sekitar lepas pantai California.. untuk info lebih lanjut, klik disini!

Leave a Comment

Aku, Takdir, Harapan, dan Lentera Jiwa-ku

Oleh Saraswati, mahasiswi Teknologi Hasil Perairan-IPB

Sebelumnya saya tidak pernah berpikir untuk bisa melabuhkan kesediaan hati saya dalam menuntut ilmu di tempat ini, di jurusan yang telah menjadi almamater saya, Departemen Teknologi Hasil Perairan Institut Pertanian Bogor, tapi suratan Allah tak seperti apa yang saya bayangkan, tak seperti apa yang saya inginkan, namun nampaknya saya harus selalu yakin bahwa inilah yang saya butuhkan. Diawali dengan segala bentuk proses menuju kelapangan hati, saya mulai mencari tahu tentang jurusan saya, seperti halnya anak lain yang baru saja lulus SMA, saya pun mencari setiap prospek pekerjaan, profesi, lingkup studi, bahkan peruntungan-peruntungan yang tentunya berkorelasi dengan jurusan saya.  Melalui internet, melalui saudara sepupu saya yang juga menuntut ilmu di universitas yang sama, melalui surat kabar, melalui teman-teman, melalui sahabat orang tua saya, saya terus mencari sebuah atau beberapa argumen yang kelak bisa menguatkan saya sehingga pada akhirnya saya bisa berkata “Ya.. saya pasti bisa melewati semua ini.. menjalaninya dengan baik, membuat orang tua saya bangga.. meski bukan lentera jiwa saya”.

Tahap inisiasi dalam beradaptasi di kampus, saya telah banyak ditampar oleh suguhan-suguhan materi yang menegaskan betapa bidang pertanian Indonesia (dalam arti luas) sangat membutuhkan agen-agen pengubah bangsa, agen-agen pemberani, agen-agen yang mau menerima resiko, agen-agen yang rela berkorban demi bangsa negara bukan demi uang serta gengsi semata, mereka adalah  agen pembaharu, mereka lah yang hingga kini negara ini tunggu-tunggu. Dan saya pun bertekad ingin menjadi bagian dari agen itu, agar kelak tak lagi kita temukan orang-orang kelaparan, agar kelak tak lagi kita temukan banyak entitas yang terkena busung lapar, agar kelak tak lagi kita saksikan ribuan orang berdesak-desakan hanya demi raskin (beras untuk orang miskin) yang kutuan, agar kelak negara kita menjadi apa yang kita impikan selama ini, tentunya melalui perjuangan tulus kita di sini, di bidang pertanian. Semoga tak sekedar intuisi.

Saya dan mungkin sebagian besar rakyat Indonesia menyadari bahwa Indonesia merupakan negara yang sangat kaya terutama kekayaan sumber daya perairannya (mengingat wilayah perairan Indonesia lebih luas daripada wilayah daratannya), namun saya yakin sebagian besar rakyat Indonesia pun bosan mendengar segala hal tentang keutamaan negeri dongeng yang sekaligus negeri ironi ini, seperti tak ada pengaruh terhadap kemakmuran rakyatnya, tak ada langkah pasti untuk sekedar membuat perubahan kecil yang signifikan, karena mungkin sebagian besar rakyat Indonesia lebih pandai berbicara, mengkritik, serta membuat ekspetasi yang fantastis dalam untaian kata yang berbelit-belit daripada sedikit saja berbuat untuk perubahan, dan CELAKAnya hal yang sama terjadi pada diri saya sendiri.

Berbagai peristiwa dan pengalaman empiris yang memilukan telah saya temui ketika saya melaksanakan kunjungan lapang ke beberapa wilayah perikanan beserta teman satu jurusan lainnya, dari hal-hal itu saya melihat suatu celah, celah yang harus diisi, dan saya tidak tahu siapa lagi yang akan mengisinya jika bukan kita, pemuda-pemudi yang mengaku mahasiswa perikanan. Setelah saya lulus, saya ingin sekali melanjutkan studi saya di bidang perikanan terutama di bidang sosial ekonomi perikanan, karena saya pikir seberapa pun tingginya tingkat teknologi yang telah ditemukan dalam rangka memajukan perikanan Indonesia tentu akan selalu dibenturkan dengan tahap implementasi, karena berbicara tentang perikanan tidak hanya berbicara tentang pakar atau ilmu-ilmu setengah matang, namun kita pun berbicara tentang masyarakat khususnya masyarakat perikanan yang akan menjadi objek sekaligus subjek pembangunan perikananan yang berkelanjutan. Saya pun ingin menuntut ilmu tidak hanya di Indonesia, saya ingin melihat Indonesia dari sudut pandang yang berbeda, lalu saya akan berusaha mengorek ilmu dari negara-negara yang telah mapan di bidang perikanan , agar nanti ketika saya kembali ke tanah air, saya bisa membawa banyak kabar gembira untuk perikanan Indonesia terutama untuk para nelayan sang pahlawan pemburu protein hewani. Lalu tak hanya meneguk berbagai literasi, saya pun ingin mengaplikasikan apa yang saya dapat (learning by doing). Semoga Allah memberi saya kesempatan agar bisa mengabdikan diri di negara ini, membangun peradaban baru, mengubah desa ataupun kawasan pesisir terbelakang menjadi sebuah wilayah yang maju serta jaya karena kearifan lokalnya, dan pada akhirnya saya bisa menjadi bagian dari penduduk Indonesia yang bermartabat, memiliki jati diri, sejahtera, serta mandiri.

Telah saya uraikan banyak tentang hal apa yang menjadi harapan dan tentang alasan yang menjelaskan mengapa saya banyak membual tentang harapan tersebut. Namun rasanya semua itu hanya akan menghasilkan goresan angka NOL besar jika saya hanya sibuk berintuisi. InsyaAllah mulai saat ini, serta hari-hari sebelumnya saya telah dan akan terus berusaha, membuat perubahan-perubahan kecil dalam diri saya dari hari ke hari sebelum kelak saya akan menjadi bagian yang akan membuat perubahan besar di negara ini. Mengenyam pendidikan formal di jam-jam kuliah saja tidak cukup untuk bisa menjadi seorang director of change, saya perlu banyak menginvestasikan waktu di forum-forum yang membuat saya bisa lebih membuka pandangan, di kegiatan-kegiatan non-kurikuler yang dapat membuat kepekaan saya terhadap lingkungan sekitar bertambah, serta di tempat-tempat yang akan membuat saya tetap beristiqomah untuk berlomba-lomba dalam kebaikan hingga pada akhirnya saya akan berkata “Ya.. saya pasti bisa menikmati semua ini.. menjalaninya dengan sangat baik, menjadi bermanfaat untuk semua.. dan saya yakin.. ini lentera jiwa saya, yang telah digariskanNya”.

Leave a Comment

ingatkah kamu dengan Salman Al Farisi?

Salman Al Farisi, sang pencari kebenaran

Salman Al Farisi, beliau adalah anak Bupati di suatu wilayah Persia, beliau merupakan abdi agama majusi yang sangat taat dan memiliki peranan penting dalam agamanya. Suatu saat beliau mendapati kaum nasrani sedang bersembahyang, beliau sangat tersentuh dengan cara ibadah kaum nasrani, setelah pulang ke rumah beliau mendiskusikan semua itu dengan ayahnya namun yang beliau dapatkan adalah kaki yang dirantai dan raga yang dipenjarakan.

Kecintaannya terhadap kebenaran hakiki mendorong hatinya untuk beriman pada agama nasrani, kabur dari pemenjaraan, dan terus menerus belajar dari para pemuka agama nasrani. Suatu saat beliau ditinggalkan oleh salah satu sahabat dalam pencarian ilmu, beliau diberi tahu mengenai tanda-tanda kenabian seorang lelaki arab yang tidak akan memakan harta sedekah, menerima pemberian jika itu berupa hadiah, dan memiliki tanda kenabian di pundaknya. Beliau pun bergegas ke negeri Arab mengikuti suatu rombongan orang jazirah Arab. Perjuangan memang tak bertabur bunga, beliau dijadikan budak belian kaum yahudi di jazirah Arab dan dibawa ke Madinah. Di negeri Madani itulah beliau akhirnya menjadi saksi atas keberadaan Rasulullah yang penuh kasih sebagai nabi penutup di muka bumi ini dengan tanda-tanda kenabian yang beliau temukan pada diri Nabi Muhammad.

Integritasnya terhadap segala sesuatu yang berbau kebenaran, membawa beliau menjadi muslim yang taat serta turut serta dalam perang-perang bersama Rasulullah melawan kafir, bahkan ketika tentara islam yang tangguh dalam keadaan terdesak, beliaulah yang mengajukan strategi-strategi jitu sebagai wujud cinta pada Allah dan pada Lelaki sang Penggenggam Hujan (Muhammad SAW). Lalu seberapa besarkah kecintaan kita terhdap kebenaran?

 

anonymous

Leave a Comment

Bilal, Sang Pengumandang Seruan Langit

(sebenernya ini artikel yang dibuat untuk buletin ulil albab 46, lupa mencantumkan beberapa sumber, tapi semoga bermanfaat)

Bilal bin Rabah Al Habasyi, Sang Pengumandang Seruan Langit

Namanya adalah Bilal bin Rabah, Muadzin Rasulullah SAW, memiliki kisah menarik tentang sebuah perjuangan mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan pernah membosankan, walaupun terus diulang-ulang sepanjang zaman. Kekuatan alurnya akan membuat setiap orang tetap penasaran untuk mendengarnya

Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda’ (putra wanita hitam). Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Makah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abdud-dar. Saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir Quraisy.

Ketika Makah diterangi cahaya agama baru dan Rasulullah yang agung mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam.

Perjuangan menegakkan agama Allah saat itu memang tak bertabur bunga, Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun.

Biasanya, apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang pasir Mekah berubah menjadi perapian yang begitu menyengat, orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam yang tertindas seperti Bilal, lalu memakaikan baju besi pada mereka dan membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terasa semakin terik. Tidak cukup sampai di sana, orang-orang Quraisy itu mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka mencaci maki Muhammad.

Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”

 

Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”

 

Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.

 

Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.

Sampai suatu ketika, Abu Bakar sahabat Nabi SAW mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas.

Setelah Bilal dimerdekakan dan ikut hijrah ke Madinah bersama Rasulullah, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Muhammad SAW dalam berdakwah. Bilal selalu mengikuti Rasulullah ke mana pun beliau pergi. Selalu bersamanya saat shalat maupun ketika pergi untuk berjihad di medan perang. Kebersamaannya dengan Rasulullah SAW ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya. Bilal adalah muadzin Rasulullah dan merupakan orang yang pertama mengumandangkan adzan di masjidil Nabawi serta di atas Ka’bah ketika Fathul Makkah. Dengan suaranya yang begitu menggetarkan hati, Bilal mengajak umat islam di masa itu untuk menunaikan solat dan meraih kemenangan hakiki bersama-sama.

 

anonymous

Leave a Comment

berpatah-patah kata buat mereka

seperti halnya apa yang kukatakan pada entitas yang kutemukan di TK, SD, SMP, SMA..maka kukatakan juga pada kalian.. “kalian takkan pernah tergantikan..bos”, kini aku harus berhenti terlelap dalam zona nyaman dan bergegas..memakai kaos kaki dan sepatuku lagi.. dan bersafari.. hingga suatu saat nanti aku akan mengatakan pada kalian “hei aku menemukan seseorang yang membuatku nyaman di dekatnya, membawaku terbang menyusuri musim lalu aku berkata padanya “engkau takkan tergantikan”.. bergegaslah kawan.. mari membangun negeri dengan kapabilitas masing-masing.. sesuai dengan lentera hati masing-masing..

Leave a Comment

who wants to be “Pahlawan Kebajikan”

Suasana riuh akibat perhelatan antara kekuatan bulan dengan kekuatan para siluman tiba-tiba hening seketika, sailormoon mulai kehabisan tenaga.. “zreeeeet..!” dan setangkai mawar merah pun kembali menancap dengan cantik di jalanan yang diindikasi terbuat dari aspal (nah loh bingung), Taksido bertopeng datang dengan segala bentuk ke-cool-annya, angin sepoi-sepoi mengibaskan jubah Taksido yang terlihat cemerlang seperti baru dilaundry.. yeaah this is sailormoon’s hero ever.. sebenarnya saya masih suka bertanya-tanya kenapa saat Taksido muncul harus ada bunga mawar yang menancap, saya sih berprasangka baik saja “ooohhh.. mungkin Taksido bertopeng masih ada hubungan keluarga dengan Elvie sukaesih dan secara diam-diam beliau membawa gen penyandi dangdut..”. Tapi tak masalah.. penampilan Taksido sebagai pahlawan kebajikan selalu terlihat prima, sempat membuat banyak wanita (yang belum cukup umur) berdecak kagum melihat aksinya.

**

 

Boleh diakui, fenomena ninja hatori di dunia perkartunan sempat merenggut separuh masa kecil saya (dan mungkin anak kecil lainnya), teringat saat saya banyak mengabaikan perintah ibu di hari minggu pagi hanya karena saya tidak mau ketinggalan adegan-adegan hattori sang ninja setia kawan yang selalu membantu kenji si anak malang yang sering diganggu ninja kimimaki.. Meski dulu saya telah banyak menyakiti hati Ibu, khususnya di hari minggu pagi karena keasyikan nonton Hattori, tapi sejak saat itu saya bertekad ingin menjadi ninja hattori-nya Ibuku.. Yaaa.. dialah hattori sang pahlawan kebajikan penyuka kebaikan yang telah menoreh beberapa kesan di hati penggemarnya..

**

 

Pesona ultraman pun tak kalah macho dalam menarik perhatian anak-anak kecil polos yang sedang mencoba mencari jati diri (walau sebagian besar dari mereka tidak peduli amat sama tektek bengek jati diri). Mulai dari ultraman biasa, ultraman seven, ace, taro, leo, 80, tiga, dyna, gaia, neos, nexus, max, sampai cosmos yang sangat mencintai lingkungan serta perdamaian, aksi manusia ultra yang kadang sulit dicerna oleh logika pun mampu mencuri hati penontonnya.. Sempat dulu merengek meminta piyama bercorak ultraman hanya agar saya bisa terlihat sedikit gagah di depan teman-teman saya. What a dumb desire it is..

 

Saya kira masih banyak pahlawan kebajikan (bukan hanya tokoh fiksi tentunya) yang mampu mencuri hati kawan-kawan baik di masa kecil atau hingga saat ini.. Mereka yang sempat membangun imajinasi kita.. Power ranger, Naruto, Mermaid man, Spiderman, Catwoman, Saras008, Superman, Supermie, dan sebagainya.. Mereka memiliki gaya mereka masing-masing dalam berbuat kebaikan, mereka memiliki kekuatan yang berbeda, tujuan yang berbeda, serta masalah-masalah yang berbeda.. namun sebenarnya citra yang mereka bangun adalah sama… merekalah sang pahlawan kebajikan yang menyukai kebaikan..

 

Aksi mereka yang memukau dan kadang bisa dianggap rada aneh bahkan psikopad bukanlah menjadi alasan utama mengapa kita (mungkin) jadi mengidolakan mereka.. namun saya yakin, di sini nih (sambil nunjuk ke dada dan berbicara serius).. di dalam hati kita, telah bersemayam naluri untuk bisa menjelma menjadi sebuah citra yang disukai banyak orang, membawa keseimbangan, menciptakan perdamaian, mengentaskan kemiskinan (udah kayak DinSos aja nih) dan menyukai segala macam kebaikan.. Dialah citra seorang pahlawan kebajikan..

 

Tak dipungkiri kita (dalam hal ini manusia) pasti punya sisi malaikat yang senantiasa ingin selalu berbuat kebaikan dengan penuh ketulusan, dan hanya ingin mencari keridhoan Pencipta kita.. Namun tak bisa dipungkiri juga, setan pasti gak mau ketinggalan ambil andil untuk senantiasa mengajak manusia pada kejelekkan lalu menjerumuskannya.. tapi satu hal yang perlu digarisbawahi.. manusia terlahir dalam keadaan suci dan fitrah yang baik, tinggal bagaimana proses kehidupan membentuk manusia menjadi output-output tertentu (what the damn sentence it was).. Balik lagi ke masalah pahlawan kebajikan nih, ternyata gak cuma tokoh fiksi saja atau orang-orang tertentu saja yang berpotensi menjadi pahlawan kebajikan, kita juga punya peluang yang sama wahai Saudara-Saudara.. Kita punya peluang yang sama untuk melakukan kebaikan..

 

Sudah seharusnya kita bergembira dengan kebaikan, karena sesungguhnya Allah telah menyediakan bagi kita pahala yang besar.. Sebagaimana Allah SWT berfirman : “Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman) : Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan” (Ali Imran: 195)..

 

Lalu bagaimanakah pokok-pokok kebajikan itu? Apakah harus selalu melawan monster dan memiliki kekuatan super seperti halnya tokoh-tokoh fiksi yang kita sukai?

 

Maka Allah SWT menjelaskan dalam firmanNya : “ Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, musafir, peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila ia berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa” (Al Baqarah : 177).

 

Huaahh ternyata.. untuk berbuat baik dan menjadi pahlawan kebajikan, kita tak perlu repot-repot pakai jubah super ngetat seperti yang digunakan oleh superman, spiderman, power rangers, kita tak perlu memakai ‘topeng’ seperti P-Man, Taksido bertopeng, dan pahlawan bertopeng, kita tak usah mencorat-coret dada kita dengan tulisan “212” seperti wiro sableng, kita tidak memerlukan atribut yang memberatkan dan mahal harganya ketika ingin berubah jadi pahlawan kebajikan, dan kita tak usah banyak bertele-tele seperti halnya tulisan saya ini.. hehe

 

Mungkin modal utama yang diperlukan adalah niat yang tak ternilai oleh uang dengan dasar berupa iman dan kekuatan pendukung berupa dorongan dari lingkungan untuk senantiasa melakukan kebaikan..

 

“Sesungguhnya pintu-pintu kebaikan itu banyak : tasbih, tahmid, takbir, tahlil, amar ma’ruf nahi munkar, menyingkirkan penghalang (duri, batu) dari jalan, dan menolong orang sampai ia tersenyum” (HR Ad-Dailamy).

 

Mengingat dukungan sekitar itu sangat perlu… Ayo kawan, mulai detik ini juga kita harus lebih bersemangat saling menyengat dalam berfastabiqul khairat.. “Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Dimana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Al Baqarah : 148). Dan apalah arti seorang manusia (yang hebat sekalipun) sebagai abdi Allah tanpa adanya ikatan yang saling memicu dalam kebaikan..

 

Sesungguhnya nikmat paling besar yang harus dipelihara adalah kebaikan, manakala dapat memenuhi jiwa dan membahagiakan keadaan (Dr Aidh Al Qarni dalam As’adum Ra-atin fil ‘Aalam)

 

Cemunguuuudh ceman-ceman! Afwaaan ya..

Leave a Comment

nyatanya, apa..

nyatanya aku terus menerus diminta menyerah oleh kehidupan yang begitu sombong

padahal kau tahu bahwa kesombongan itu bisa lebih pahit daripada fitnah

nyatanya aku terus menerus diminta menyerah oleh pedihnya berbagai peristiwa

dan kau tahu seharusnya ini tak mematikan jiwa

nyatanya aku terus menerus diminta menyerah saat langkahku menentang angkuh pada aliran yang tak kukenal

dan kau pasti tahu bahwa perjuangan tak bertabur bunga

nyatanya aku harus menyerah pada kegengsianku

dan kau punya jawaban siapa lagi yang berhak kucinta setelah ayah dan bunda

Leave a Comment

Percakapan Imam Ghazali dengan Muridnya

Pasti sudah banyak yang mendengar tentang nasehat Imam Ghazali ini kepada para muridnya. Saya kutip di sini percakapannya untuk merefresh kembali, dan mengambil hikmahnya:

Imam Ghazali = “Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?”
Murid 1 = “Orang tua
Murid 2 = “Guru
Murid 3 = “Teman
Murid 4 = “Kaum kerabat
Imam Ghazali = “Semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati” ( Surah Ali-Imran :185).

Imam Ghazali = “Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ?”
Murid 1 = “Negeri Cina
Murid 2 = “Bulan
Murid 3 = “Matahari
Murid 4 = “Bintang-bintang
Iman Ghazali = “Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama“.

Iman Ghazali = “Apa yang paling besar di dunia ini ?
Murid 1 = “Gunung
Murid 2 = “Matahari
Murid 3 = “Bumi
Imam Ghazali = “Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.”

Imam Ghazali= “Apa yang paling berat didunia?
Murid 1 = “Baja
Murid 2 = “Besi
Murid 3 = “Gajah
Imam Ghazali = “Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah pemimpin di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.”

Imam Ghazali = “Apa yang paling ringan di dunia ini ?”
Murid 1 = “Kapas
Murid 2 = “Angin
Murid 3 = “Debu
Murid 4 = “Daun-daun
Imam Ghazali = “Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat

Imam Ghazali = “Apa yang paling tajam sekali di dunia ini?”
Murid- Murid dengan serentak menjawab = “Pedang
Imam Ghazali = “Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri

Leave a Comment